MUHAMMADIYAH TERLAHIR
UNTUK MENJADI “SANG PENCERAH”
Oleh : Ahmad Amarullah, S. P.d, M. Pd

Mungkin kita sudah mafhum sejak belajar di SD dulu, bahwa Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah, salah satu Organisasi kemasyarakatan di Indonesia, selain Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai ormas yg concern terhadap bidang pendidikan dan sosial, Muhammadiyah sudah cukup membuktikan eksistensinya. Ratusan sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, rumah sakit, dan layanan sosial lainnya tersebar di pelosok negeri. Data rinci tentang ini ditampilkan di bagian akhir dari film Sang Pencerah. Silakan menyaksikan sendiri filmnya.
Ribuan kader pun menjadi tolak ukur betapa Muhammadiyah tidak bisa dinafikan sebagai sebuah organisasi yg besar. Juli 2010 kemarin, Muktamar Muhammadiyah diadakan di kota tempat didirikannya, Yogyakarta, dan sekaligus memperingati 1 abad kelahiran organisasi ini. Ribuan kader berdatangan dari berbagai daerah memenuhi Stadion Mandala Krida Yogyakarta, lokasi tempat Muktamar berlangsung. Seluruh lalu lintas jalan Kota Yogyakarta macet total pada saat berlangsungnya acara.
Semua keberhasilan dan capaian yg telah diraih Muhammadiyah ini memang tidak pernah disaksikan oleh pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan. Semuanya terjadi puluhan tahun setelah ia meninggalkan dunia. Tapi lihatlah, sejarah tetap mencatatnya sebagai salah satu tokoh terbaik yg dimiliki bangsa ini. Dan semoga ini menjadi amal jariyah bagi beliau. Dan ini mengajarkan kepada kita, bahwa semua cobaan dan ujian dalam berjuang tidak selayaknya menghentikan kita dalam meneriakkan kebenaran. Seperti yg digambarkan dalam film ini, seandainya Ahmad Dahlan memilih untuk menyerah ketika Langgarnya dirubuhkan, dan ketika keluarganya mencemooh setiap apa yg beliau sampaikan, tidak akan ada Muhammadiyah. Tidak akan ada para pembaharu. Dan bisa jadi akan semakin banyak orang yg tersesat dalam ajaran syirik yg mengatasnamakan Islam.
***
Secara keseluruhan film Sang Pencerah itu sangat bagus ditinjau dari segi kandungan, alur cerita, seni penataan musik, dan segi perfilman lainnya. Muhammad Darwis (nama KH Ahmad Dahlan sebelum ke Mekkah) selalu bertanya di dalam hatinya. Mengapa agama yang diyakininya sebagai rahmatan lilalamin (rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam) justru tidak nampak. Sebab secara fakta banyak sekali masyarakat yang terlantar dan seakan-akan dibiarkan oleh para pemuka agama. Orang-orang miskin dibiarkan melarat seakan sudah menjadi takdir mereka, Tidak ada yang tergerak hatinya untuk memperbaiki hidup dan kehidupan mereka.
Para pemuka agama dan pengikutnya tidak terusik dan sibuk dengan ritual keagamaan. Setiap hari mereka sholat berjamaah, sementara masyarakat miskin di sekitar masjid sudah kehilangan harapan hidup. Situasi demikian kontras, dan dari hari ke hari semakin banyak jumlah. Pemahaman agama juga bercampur aduk dengan kepercayaan mistik berlebih-lebihan. Sesajen berbagai jenis makanan terbuang begitu saja. Sangat mubah. Upacara tahlilan sangat berlebihan. Bahkan mereka yang sudah kehilangan saudaranya juga harus melaksanakan tahlilan yang overdosis, membuat masyarakat menjadi sedih lahir dan batin.
Masyarakat menganggap bahwa tahlilan adalah kewajiban agama. Darwis merasa yakin bahwa ini bukan esensi beragama. Pasti ada kesalahan pemahaman terhadap agama yang sebenarnya untuk rahmatan lilalamin. Bila sebuah kebiasaan lalu dibungkus dengan kepercayaan sebagai sesuatu yang sakral, maka kebiasaan itu dianggap sebuah kebenaran. Keluar dari kebiasaan itu berarti pelanggaran. Orang lain akan menganggap mereka yang tidak sama kebiasaannya bukanlah kelompoknya, bukan orang-orang beriman alias kafir. Situasi ini dimanfaatkan oleh penguasa (penjajah), bila menguntungkan maka akan diteruskan dan dilindungi seolah-olah inilah ajaran Tuhan yang wajib ditaati.
***
Bila kebiasaan ini mengusik kenikmatan atasan (pemimpin umat, pemerintah, penjajah) maka itu harus dimusnahkan. Keadaan bercampur aduk dengan pimpinan agama yang vested dan mudah memberi cap kafir bagi mereka yang tidak sepaham. Itulah secara umum yang terjadi di sekitar Ngayogyakarta pada saat itu. Cap kafir ini sangat mujarab sehingga orang tidak ada yang mempertanyakan kekeliruan ini terus terjadi. Para pengikut agama yakin seyakin yakinnya bahwa perilaku kafir adalah sebesar-besarnya dosa. Jadi, harus dijauhi.
Tetapi mereka banyak yang tidak paham makna iman, musyrik, mistik, sholat, ibadah, kafir, dan sesajen campur baur menjadi kepercayaan seakan kebenaran ajaran yang wajib ditaati. Tanpa reserve. Ketika Darwis membahas semua itu dengan ayahandanya yang diperankan oleh Ikrangera, sang ayah tidak sepenuhnya menerima. Dikatakannya bahwa agama itu bukan soal akal saja, tetapi juga harus dengan hati. Pernyataan ini ada benarnya, tetapi hati yang bagaimana dulu? Hati yang sudah dilumuti kesenangan duniawi, kedudukan, kepangkatan, kewibawaan, tentunya akan memelihara kebiasaan yang dibungkus dengan kepercayaan yang seolah-olah agung. Tidak jarang hati seperti ini justru telah mengikat kita dengan ketamakan duniawi. Kita tidak lagi menjadi bebas, tetapi terperdaya oleh hawa nafsu.
Muhammad Darwis tetap tidak bisa menerima situasi demikian. Tetapi bagaimana caranya? Inilah yang menjadi esensi perjuangannya. Darwis lalu pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah al Mukaramah. Di sanalah Darwis sempat membaca pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Muhammad Abduh (1849-1905) pemikir modern dari Mesir yang menekankan betapa pentingya akal. Seperti yang dituangkan di dalam Surah Al-Baqarah (30-34) tentang kejadian manusia, jelas sekali bahwa kelebihan manusia di atas makhluk hidup lainnya adalah karena kekuatan akalnya. Akal-fikiran itulah yang membuat manusia layak menjadi khalifatul-fil-ardli (pemimpin di muka bumi).
Rupanya pemikiran Abduh sejalan dengan apa yang dipikirkan Darwis. Tidak heran kalau Darwis sering berpendapat bahwa guru agama bukanlah yang menentukan segalanya. Kebenaran harus bersama-sama dicari, bukan hanya milik guru. Pola pendidikan ini tentu sangat berbeda diametral dengan yang selama ini dianggap kebenaran di Ngayogyakarta, yakni petuah guru adalah kebenaran. Murid hanya boleh mengikuti, tanpa ada bantahan sedikitpun. Seperti kebiasaan masa itu, orang Indonesia yang pergi berhaji, lalu mendapat nama baru. Begitupun Darwis, namanya jadi Ahmad Dahlan. Dengan bekal nalar yang kuat ditambah pengetahuan agama yang semakin banyak selama di Makkah al-Mukaramah, Ahmad Dahlan semakin memiliki modal untuk melakukan perubahan.