KONSISTEN DALAM BERSIKAP
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Anggota Majlis Tabligh Muhammadiyah Kota Tangerang)

Ada sebuah pepatah di masyarakat yang cukup kita kenal sejak Sekolah Dasar. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit biasanya berhubungan dengan menabung atau terkadang dicontohkan dengan sebuah batu yang berlubang bahkan terbelah hanya karena tetesan air. Tetesan air dalam waktu yang lama dan terus menerus itulah yang membuat batu berlubang. Proses tetesan demi tetesan air yang membelah batu karang merupakan gambaran dari sikap yang terus menerus tiada henti dan berujung pada luluhlantahnya bongkahan batu karang.
Sikap konsisten, terus menerus dalam melakukan sesuatu yang positif, berbuat sesuatu yang baik atau melaksanakan amal-amal shalih, dalam bahasa agama disebut sitiqamah. Pada dasarnya istiqomah adalah sebuah integritas yang sempurna. Ia semakna dengan teguh pendirian, konsistensi, dedikasi, komitmen atau semacamnya. Seseorang yang memiliki integritas tinggi kepada sesuatu pasti dihormati dan dihargai. Istiqâmah adalah berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata Istiqâmah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, Istiqâmah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Istiqâmah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
Seorang muslim yang istiqâmah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo dalam menjalankan perintah agama. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan. Itulah manusia muslim
yang sesungguhnya, selalu Istiqâmah sepanjang jalan.
Dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah Istiqâmah di antaranya adalah; “Maka tetaplah (Istiqâmahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS 11:112). Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap Istiqâmah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” (QS 46:13-14).
Ayat-ayat tersebut di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasulullah dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqomah sebagaimana yang telah diperintahkan. Ayat dan hadits di atas juga menggambarkan urgensi Istiqâmah setelah beriman dan dampak positif yang ditimbulkan seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan jaminan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun. Hal ini juga dikuatkan beberapa hadits nabi di bawah ini; “Aku berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah, kemudian berIstiqâmahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Sufyan bin Abdullah)
Fenomena kehidupan sehari-hari memang sangat sering kita jumpai orang-orang yang cukup mengerti dan memahami tentang nilai-nilai moralitas, spiritual, teori tentang membangun kesuksesan, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Mereka pun terdiri dari orang-orang yang cukup berpendidikan atau menguasai teorinya secara mendalam. Sebagian di antara mereka bahkan sengaja menghabiskan cukup banyak waktu dan uang untuk memahami konteks tersebut lewat seminar, diskusi, dan lain sebagainya. Tetapi hanya sebagian kecil di antara kita yang berhasil mewujudkan konsep-konsep ideal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu dikarenakan ide-ide cemerlang tersebut hanya ada di kepala, atau belum benar-benar tercermin dalam tindakan sehari-hari. Upaya mempraktikan teori, ilmu, pengetahuan dan konsep dalam tindakan nyata itu juga bagian dari sikap istiqamah.
Seorang pemimpin yang membangun pondasi kepemimpinannya di atas kekuatan berpikir dengan kebiasaan yang produktif yang dilandasi oleh kekuatan moral berarti ia memiliki konsistensi atau istiqamah dalam bersikap dan berperilaku sehingga ia mampu memberikan keteladanan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan perubahan. Orang-orang yang memiliki kepemimpinan yang mampu menerapkan arti dan makna istiqamah berarti ia meyakini benar bahwa jika hanya orang yang kuat yang dapat bertahan dan keinginan menghambat kemajuan orang, menjadi kaum penjilat, bermuka dua, tidak akan menjadi orang yang mampu mengikuti perubahan
Akhirnya para pemimpin yang memiliki “konsistensi atau istiqamah”, maka ia menyadari benar bahwa rimba hukum memang tidak pernah jelas, itu tidak berarti ia akan mempergunakan dengan dalih kekuasaan untuk ikut bermain dalam arena tersebut, karena ia akan menolak untuk ikut serta dalam persaingan yang tidak sehat, walaupun hal itu merupakan tugas yang akan dilaksanakannya. Oleh karena ia dalam bersikap dan berperilaku tidak akan melepaskan diri dari membuat suatu keputusan yang adil dan objektif. Jadi dengan sikap konsisten dan istiqamah berarti ia berupaya mendorong perubahan.