BERDAKWAH DENGAN MAU’IDZAH HASANAH
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd., M. Pd
(Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tangerang)

Akhir-akhir ini beberapa kelompok Muslim seolah merasa telah menegakkan Islam dan menganggapnya sebagai ibadah, tetapi bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam kenyataannya mereka justru pelanggar aturan Islam dan salah jalan dalam memaknai al-Quran. Kekeliruan dalam memaknai jihad misalnya, melahirkan sikap beragama yang radikal sehingga menguat dan mengakar menjadi radikalisme.
Bertubi-tubinya ujian, hinaan, dan pelecehan terhadap Islam, bukanlah hal baru. Sebagai agama terakhir dan penyempurna terhadap ajaran-ajaran agama sebelumnya, Islam seolah memosisikan dirinya sebagai solusi akhir yang akan mampu menjawab berbagai ujian yang datang. Tentu dengan catatan, tanpa memberikan kesan negatif menyelesaikannya, justru selalu menanamkan kesan baik dalam menjawab semua permasalahan yang datang. Dan agama Islam tidak diragukan lagi akan mampu menjawab dan menerangi jalan gelap yang akan dilalui oleh manusia.
Akan tetapi yang selalu muncul kepermukaan adalah perilaku yang menonjol dimensi ajaran Islamnya namun terkadang perbuatan tersebut malah merusak dan menodai citra ajaran Islam yang suci. Praktik keagamaan kaum Muslim yang radikal itu kemudian melekat menjadi kosa kata “radikalisme Islam”, meskipun dalam banyak kasus fenomena radikalisme juga muncul dan berkembang biak tidak hanya dalam ajaran Islam. Secara historis, radikalisme agama terdiri dari dua bentuk; pertama radikalisme dalam pikiran (yang sering disebut sebagai fundamentalisme) dan kedua radikalisme dalam tindakan (disebut terorisme).
Radikalisme dalam Islam merupakan permasalahan yang sangat serius dan berbahaya, jika tidak ada usaha untuk menekan perkembangannya. Baik radikalisme dalam pikiran, maupun radikalisme dalam tindakan, tetap saja keduanya tidak diberi legalitas oleh Islam. Sebab, bukan hanya berpotensi merusak ajaran agama Islam itu sendiri sebagai agama yang cinta damai, tetapi juga mengundang berkecamuknya perang tanpa akhir, sebab segalanya diawali dengan radikal. Atau radikal terhadap orang yang berbeda pandangan hidup, berbeda agama dan lain sebagainya, dengan perlakuan kasar memaksa mereka untuk sama dengan kita.
Sikap beragama yang radikal itu sangat jelas cara dan dampaknya apabila diterapkan dalam konteks mengajak orang ke jalan yang lurus (dakwah). Tak sedikit kelompok-kelompok keagamaan yang beramar makruf dan nahi munkar menggunakan cara-cara kekerasan dan pemaksaan kehendak. Akibtanya, selain merugikan masyarakat yang menjadi sasarannya, juga mencoreng nama baik Islam.
Jika kita telusuri beberapa ayat dalam al-Quran, dalam menjalankan tugas dakwah misalnya, Islam menganjurkan agar kita mengajak kepada kebaikan dengan bijak (hikmah), nasihat yang baik (mauidzah hasanah) dan berdialog dengan santun (wajadilhum billati hiya ahsan). Ayat yang sangat populer mengenai anjuran tersebut adalah, “Ajaklah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS An-Nahl [16]: 125].
Sungguh sangat bertolak belakang, Islam menganjurkan umatnya untuk ramah tamah, lembut, dan penuh cinta dalam menghadapi siapa pun dan dalam kondisi apa pun, sementara sebagian Muslim melakukan kekerasan, hujatan, dan cacian yang menyebabkan permusuhan. Dengan demikian, radikalisme dan terorisme dalam menyebarluaskan ajaran Islam sungguh tidak mendapat tempat. Inilah yang harus dibenahi secepat mungkin, agar karakter Islam yang ramah dapat terjaga dan mampu menebar perdamaian di atas bumi.
Untuk itu, kaum Muslim harus merapatkan barisan menangkal arus radikalisme agama. Barisan-barisan itu bisa dalam bentuk organisasi formal maupun forum-forum silaturahmi keagamaan yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan moderasi. Ini semua memerlukan keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah. Terbangunnya barisan-barisan kaum Muslim yang kokoh diharapkan mampu membendung arus radikalisme. Pola perjuangan menghadapi radikalisme itu sesuai dengan petunjuk Al-Quran, “Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh,” (QS As-Shaff [61]: 4).
Kata-kata “berperang” di atas tidak selalu dianalogikan dengan perang fisik, perang melawan musuh bersenjata, saling membunuh atas nama agama saja. Namun, bisa diartikan sebagai perang abadi dalam hati atau jiwa manusia, di mana setiap detik selalu terjadi peperangan hebat di dalam hati kita masing-masing. Makna yang relevan untuk kontkes sekarang adalah perang pemikiran melawan arus radikalisme agama.