MENGGAPAI JALAN YANG LURUS (SHIROTH AL MUSTAQIM)

Dalam QS. Surat An-Nahl ayat 76, Allah SWT membuat ilustrasi menarik tentang dua orang lelaki dimana yang satunya bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas lelaki yang satunya, sehingga ke mana saja lelaki yang bisu itu diperintahkan, maka dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Dan samakah orang yang demikian itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?
Melalui ayat ini, Allah hendak menggambarkan tentang berhala yang disembah di mana berhala-berhala itu tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak berakal, yang justru menjadi beban bagi penyembahnya. Berhala membutuhkan penyembah agar dia membawa, memindahkan dan meletakkannya di tempat tertentu serta mengabdi kepadanya. Bagaimana mungkin berhala itu disamakan dengan Allah yang menyuruh kepada keadilan dan tauhid, Allah yang berkuasa dan berbicara, yang Maha-kaya, yang ada di atas ash-shirathul-mustaqim dalam perkataan dan perbuatan-Nya?
Kita sering mendengar para penceramah menyebut kata shirath al mustaqim dalam berbagai kesempatan, namun shirath al mustaqim kerapkali hanya digambarkan sebagai sebuah jembatan di negeri akhirat nanti, di mana umat manusia kelak akan menyeberanginya. Jembatan shirathul-mustaqim digambarkan pula sangat halus layaknya rambut dibelah tujuh. Apakah sedemikian memaknai shirathul-mustaqim?! Lantas bagaimana mengubungkan gambaran tentang shirathul-mustaqim dengan firman Allah di atas?!
Shirath al mustaqim merupakan frase dalam bahasa Arab yang secara harfiah berarti “jalan yang lurus”. Frase ini tercantum pada surat Al Fatihah ayat 6-7 yang berbunyi : “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat, bukan jalan yang dimurkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Jalan yang lurus tersebut adalah jalan yang ditempuh oleh manusia dalam menerapkan prinsip-prinsip yang dijelaskan dalam surat Al-Fatihah hingga surat An-Naas (Manusia), yang berarti bagaimana mengaplikasikan kehendak Allah di alam semesta, menjadi kehendak Allah yang juga terwujud dalam kehidupan manusia.
Dalam kaidah Bahasa Arab,. kosa kata “ash-shirot” hanya bermakna tunggal (singular) tidak pernah bermakna jamak (plural) sehingga makna “shirath al mustaqim” hanya dapat diterjemahkan sebagai “satu-satunya jalan yang lurus”, yang tidak membuka peluang sedikit-pun adanya “jalan lurus” yang lainnya selain shirath al mustaqim itu sendiri. Berbeda halnya dengan kosa kata “as-sabil” yang dapat mempunyai makna jamak menjadi “subulus” misalnya. Oleh sebab itu, istilah subulus salam dapat bermakna luas berupa berbagai amalan kebajikan yang tidak hanya berbentuk “satu mode” kebajikan saja, bisa berbentuk jihad, zakat, puasa, shodaqoh, tholabul ilmidan lain sebagainya.
Satu hal yang perlu dicermati, bagi kita yang awam dengan kosa kata bahasa Arab memang agak sulit memahami perbedaan kosa kata Ash-shirot dan as-sabil tersebut, karena kedua kosa kata tersebut sama-sama diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan makna “jalan”. shirath al mustaqim diterjemahkan menjadi “jalan” yang Lurus, dan subulus salam juga diterjemahkan pula menjadi “jalan keselamatan”. Seakan makna Ash-shirot adalah sama saja dengan makna as-sabil. Padahal hakekat dan makna azasi dari keduanya dalam kaidah bahasa arab adalah berbeda satu dengan lainnya.
Shirath al mustaqim hanyalah bermakna “satu-satunya jalan kebenaran” yang tak bisa terbantahkan lagi hakikat dan titian kebenarannya, sedangkan as-sabil dapat berupa jalan kebenaran seperti pada istilah “Fi Sabilillah” ataupun dapat pula berupa jalan keburukan seperti pada istilah “Sabilus Thagut” dan “Sabilus Syaithon”.
Kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan agama ini yang pada perkembangannya menjadikan banyak di antara kaum muslimin menerapkan “Jihad” dalam bentuk tindakan-tindakan terorisme seperti aksi bom bunuh diri dengan dalih jihad fisabilillah, padahal sekali lagi makna as-sabil merujuk pada beragam jalan kebaikan tidak sesederhana dipahami dengan bom bunuh diri. Menggapai Shirath al mustaqim dilakukan dengan menebar islam yang rahmatan lil’alamin, islam yang damai, sejuk dan sarat
Akhirnya menggapai Shirath al mustaqim sesungguhnya yang dimaksud adalah sebagaiman dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-an’aam ayat 153 : dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.[QS.6:153].