MENDULANG HIKMAH DARI SETIAP KEJADIAN

                   Setiap kejadian yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari mengandung hikmah untuk bisa diambil pelajarannya. Baik peristiwa yang baik maupun kejadian yang tragis dan menyedihkan. Hikmah yang terkandung dalam setiap peristiwa tersebut bisa kita jadikan sebagai pelajaran untuk bisa menghindari kegagalan di masa depan. Peristiwa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari mengandung pesan moral tingkat tinggi andai setiap kita mampu mendulang pelajaran di balik peristiwa itu.
Tanda orang yang memperoleh hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya dalam kehidupan adalah kesiapan dan kemampuan untuk melihat kebaikan dari peristiwa seburuk apapun dan bisa memetik pelajaran agar tidak mengalami kejadian serupa di kemudian hari. Nabi SAW menginatkan dengan ungkapan, bahwa orang mukmin tidak akan digigit ular dalam lubang yang sama dua kali, atau para cendekiawan muslim masa lalu mengatakan, bahwa hanya keledai yang digigit kalajengking dua kali dalam lubang yang sama.
Sementara tanda keimanan seseorang dalam menghadapi kejadian-kejadian yang memilukan adalah tidak adanya kekecewaan terhadap apa pun yang terjadi dalam hidup ini. sebab orang yang gagal memetik hikmah dalam setiap peristiwa akan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan sentimentalisme. Orang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya.
Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi. Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Hal ini juga dinyatakan secara panjang lebar oleh Nabi SAW : “luar biasa sekali perilaku seorang mukmin karena selalu melihat kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Sayyid Quthb mengisyaratkan hal itu dalam tafsirnya bahwa hikmah adalah buah dari pendidikan, yaitu kemampuan meletakkan segala urusan di tempatnya yang benar dan menimbangnya dengan timbangan yang tepat, serta mendapatkan kesudahan segala urusan dan pengarahan. Orang yang memperoleh hikmah boleh jadi memperolehnya setelah belajar dari kesalahan, kekeliruan, atau ia menyerap dari pengalaman dari orang yang lebih darinya dari segi usia, atau ilmu, atau pengalaman.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 269 berbunyi: “ Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dihendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” Al-Maraghi memaknai hikmah dalam ayat tersebut dengan ilmu yang bermanfaat yang membekas dalam diri, sehingga berkehendak untuk beramal yang menarik seseorang sampai kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah memberikan hikmah itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, sehingga dengan hikmah itu seseorang akan dapat membedakan berbagai hakekat kebenaran dan dapat pula membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Pribadi yang penuh hikmah merupakan pencerminan pribadi yang berilmu mendalam, member manfaat, bertindak benar dan tepat setelah melalui proses memahami segala yang terjadi di alam semesta ini; mengerti hakekat kebenaran dan sunnatullah, tujuan-tujuannya, rahasia-rahasianya dan manfaatnya; cerdas akalnya, teliti dan ahli; mendapatkan anugerah, filsafat, ilham dan petunjuk; terdapat kesesuaian antara kata dan perbuatan; menempatkan sesuati sesuai dengan haknya secara seimbang dan adil; lemah lembat, menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menghindar diri dari akhlak tercela.
Cara untuk memperoleh hikmah ialah seseorang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan meneladani pribadi luhur Nabi Muhammad SAW. Benar apa yang disabdakan Nabi SAW bahwa hikmah dapat menambah (derajat) seorang terhormat dan mengangkat (derajat) seorang hamba sahaya sehingga ia dapat menduduki kedudukan raja (penguasa)”. (HR. Abu Na’im dan Ibnu Abdi). Wallohu A’lam Bishshawab.