RAMADHAN MOMENTUM PERUBAHAN
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Ketua PCM Kecamatan Tangerang)

Bulan Ramadhan kembali menyapa kita umat Islam, Ramadhan adalah bulan istimewa bahkan paling istimewa dan paling utama, karena Allah Ta’ala dan Rasulullah saw telah mengkhususkannya dengan beragam keistimewaan dan bermacam-macam keutamaan serta kelebihan yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lain. Dan karenanya, Ramadhan merupakan salah satu momentum istimewa, momentum utama, dan momentum kondusif bagi kaum muslimin, secara individual maupun komunal melakukan upaya-upaya penempaan, perbaikan dan perubahan diri serta kehidupan dalam rangka menggapai derajat kepribadian mukmin.
Pada bulan ini pula menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah dan bercermin diri, yang dengannya kita bisa mengetahui tingkat keimanan, kualitas ketaqwaan kita kepada Allah, dan kadar kerinduan kita pada kehidupan kelak di akhirat. Melalui cermin Ramadhan, kita hendaknya bisa menguji diri dan hati kita, untuk mengetahui sudah berada di tingkat manakah keimanan kita? Apakah tingkat iman dan taqwanya masih tetap berada di tingkat dasar: dzaalimun linafsih (penganiaya diri sendiri), atau sudah naik ke tingkat menengah: muqtashid (pas-pasan, sedang-sedang saja), atau sudah sampai di tingkat tinggi: saabiqun bil-khairaat (pelopor dan terdepan dalam berbagai kebaikan)?
Dalam kaitan dengan ini, Allah berfirman: ”Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Al-Faathir: 32).
Faktor pertama dan utama yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah, dipilihnya bulan tersebut bagi pelaksanaan kewajiban ibadah shiyam, yang merupakan salah satu rukun asasi dalam Islam. Dan ibadah shiyam, sebagaimana penegasan Allah, adalah salah satu sarana teristimewa untuk menggapai derajat ketaqwaan yang lebih tinggi (QS.Al-Baqarah: 183). Disamping itu banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui pelaksanaan ibadah shiyam, yang menjadikannya sebagai salah satu ibadah paling utama sebagai jalan taqarrub ilallah, penyucian jiwa, penempaan hati, perlindungan diri, penghapusan dosa, pembebasan dari api neraka, peningkatan derajat di Surga, dan seterusnya dan seterusnya.
Namun ibadah shiyam yang dimaksud, dengan bermacam-macam fadhilahnya tersebut, tentu bukanlah ibadah shiyam yang bersifat parsial yang hanya terbatas pada menahan diri dari lapar dan dahaga semata. Melainkan menahan dari secara total dengan menjaga dan memelihara seluruh entitas diri seorang mukmin atau mukminah karena Allah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan nista, maka sekali-kali Allah tidak butuh pada ibadah shiyamnya dengan hanya meninggalkan makan dan minum saja” (HR. Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika salah seorang diantara kamu sedang beribadah shiyam, maka janganlah ia berlaku tidak senonoh atau membuat keributan. Dan jika seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: sungguh aku sedang shiyam!” (HR.Muttafaq ‘alaih).
Untuk itu, agar ibadah shiyam kita bisa total, optimal dan tidak parsial, maka ibadah shiyam harus meliputi seluruh unsur yang ada dalam diri kita, yaitu hati dan pikiran, emosi dan perasaan, syahwat perut, syahwat seks, syahwat lidah dan mulut, syahwat mata, syahwat telinga, syahwat tangan, syahwat kaki, dan syahwat-syahwat yang lainnya. Ibadah Shiyam yang total seperti itulah yang akan mewujudkan perubahan besar dalam diri pribadi dan kehidupan orang perorang secara khusus dan juga masyarakat secara umum. Adapun ibadah shiyam parsial dan tidak berorientasi perubahan hanya mengubah jadwal makan dan minum dari siang ke malam saja, maka tidak akan meninggalkan perubahan yang berarti.
Namun perlu dicatat bahwa, betapapun istimewa dan utamanya, Ramadhan hanyalah salah satu momentum istimewa bagi setiap upaya perubahan menuju kondisi yang lebih baik dan lebih diridhai Allah, dan bukan satu-satunya. Masih banyak momentum yang lainnya. Bahkan setiap saat dalam kehidupan kita bisa menjadi momentum perubahan, selama ada niat, kemauan, tekad dan kesungguhan! Maka jangan ada yang salah persepsi, sehingga menganggap jika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, maka ia harus menunggu sampai Ramadhan tiba! Tidak, justru prinsip yang harus kita yakini dan pegangi dalam hal ini adalah bahwa, siapapun yang ingin dan mau berubah, maka ia harus melakukannya saat ini juga, dan tidak menunda-nunda lagi, termasuk tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan! Karena tidak ada seorangpun yang tahu, apakah ia masih akan dapat kesempatan untuk bisa berjumpa dengan Ramadhan yang ditunggu-tunggu itu atau tidak.