PESAN AKHLAKUL KARIMAH DALAM RAMADHAN
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Ramadhan merupakan bulan tarbiyah, bulan pendidikan dan pelatihan. Sebab selama satu bulan, kaum muslimin dididik dan dilatih untuk mengendalikan jiwa raganya agar tidak mengikuti ajakan syahwat serta hanya melakukan amal-amal saleh. Kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya untuk selalu berperilaku yang saleh dan sebaliknya kemuliaan manusia terletak pada kemampuan menolak ajakan syahwat. Apabila seorang hamba sudah mencapai level demikian, agama menyebutnya sebagai hamba Allah yang berakhlakul karimah. Dan karenanya, Ramadhan erat kaitannya dengan implementasi pesan akhlakul karimah dalam kehidupan orang-orang yang beriman.
Prinsip dasar dari implementasi nilai-nilai akhlakul karimah adalah merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Seorang hamba yang berkepribadian mulia tidak akan melakukan perilaku tercela dan mengikuti ajakan syahwatnya karena dia yakin, bahwa Allah berada dekat dengan dirinya dan selalu mengawasi segala tindak lakunya. Para pelaku korupsi, pungli, pembalakan liar dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) melakukan perilaku hinanya itu karena mereka tidak merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya. Perbuatan tercela itu dilakukan di luar sepengetahuan para penegak hukum namun pasti selalu dalam pengawasan Allah.
Nuansa ibadah shiyam di bulan Ramadhan kental dengan pesan untuk selalu merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Inilah makna hadits Qudsi, ”ibadah shiyam dalah milik Allah dan Allah pulalah yang menjamin pahalanya”. Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa semua ibadah selain shiyam ada unsur kontrol sosialnya. Ibadah sholat misalnya, lebih diutamakan apabila dikerjakan secara jamaah atau sepenglihatan orang banyak. Zakat pun demikian, dilakukan dalam satu bentuk interaksi dengan orang lain, baik melalui panitia amil zakat ataupun langsung kepada faqir miskin.
Dalam batas tertentu, kitab suci al Qur`an sendiri membenarkan sikap mendemonstrasikan zakat dan sedekah, meskipun kalau dilakukan secara pribadi tanpa banyak diketahui orang lain dan langsung diberikan kepada orang-orang miskin akan lebih baik serta lebih utama, karena hal itu dapat menjaga nilai keikhlasan (QS Al Baqarah : 271). Ibadah yang paling kental nuansa kontrol sosialnya adalah ibadah haji. Ibadah ini dikerjakan bersama dengan orang banyak, berangkat ke tanah suci dengan diantar sanak famili, handai taulan dan karib kerabat beramai-ramai.
Di sinilah letak dari pesan dari ibadah shiyam di bulan Ramadhan, yaitu merasakan kehadiran Allah sepenuhnya dalam kehidupan keseharian, kapan dan dimana saja seorang hamba itu berada. Sebuah pesan yang menegaskan dengan amat jelas, bahwa ibadah shiyam di bulan Ramadhan mendorong, melatih dan mendidik seseorang untuk tidak gampang membatalkan ibadah shiyamnya dengan mengikuti ajakan syahwat untuk minum di siang hari misalnya padahal dia benar-benar haus-dahaga. Pesan utama dari ibadah shiyam adalah latihan mental untuk selalu merasakan hadirnya Allah dalam kehidupan sebagai implementasi visi kehidupan yang berakhlakul karimah.
Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, “Saya bersama Umar bin Khattab pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami. Umar berkata, “Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!” Anak kecil penggembala itu menjawab, “Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya.” Umar menguji anak itu, “Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan srigala.”
Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar, dan berkata, “Maka dimanakah Allah?” Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, “Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat.”
Mungkin dalam benak kita timbul pertanyaan, bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang berlaku pada setiap manusia? Keyakinan lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar. Di masa kekhalifahan Umar, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan lingkungan (millieu, bi’ah) yang baik bagi anak gembala tersebut, kendati ia berada di gurun. Fakta demikian merupakan bukti, bahwa implikasi sistem pendidikan Islam pada masa itu telah merembes ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syariat Allah.
Akhirnya, dengan masuknya Ramadhan umat Islam harus memanfaatkannya sebagai media pendidikan, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan perubahan masyarakat. Ajaran Islam tidak hanya menekankan hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk ibadah langsung (mahdlah), tapi ibadah sosial tidak boleh ditinggalkan. Nilai ibadah sosial ini tentunya sangat isitimewa dihadapan Allah, karena selain kita melaksanakan perintah Allah, disisi lain kita bisa meringankan beban orang lain sebagai manifestasi dari hakikat kehadiran Islam yang rahmatan lil ‘alamien yang menjunjung perilaku yang sarat keluhuran. Wallahu a’lam bishowwab!