FENOMENA SELEBRASI DALAM RAMADHAN
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Hadirnya bulan Ramadhan di tanah air kita boleh dikata merupakan fenomena eksklusif sekaligus massif. Disebut eksklusif karena Ramadhan merupakan ibadah khas umat Islam, namun Ramadhan menjadi fenomena massif sebab simbol-simbol Ramadhan menjadi pemandangan umum, milik publik secara keseluruhan tanpa kecuali. Di mana-mana terpasang spanduk berbunyi “Marhaban ya Ramadhan” (Selamat Datang Ramadhan). Ruang publik keseharian seperti menyesuaikan diri dengan atmosphere yang dikehendaki oleh Ramadhan.
Media-media massa, baik cetak maupun elektronik menampilkan sajian-sajian khusus seputar Ramadhan. Tampilan para pengisi acara; host, bintang tamu, dan penyanyi di berbagai stasiun televisi pun tak luput beradaptasi dengan suasana Ramadhan. Lagu-lagu bernuansa religi, siraman ruhani dan acar-acara dikemas sedemikian rupa dengan spektrum bulan Ramadhan. Warung, restoran dan kafe tutup di siang hari, razia-razia penyakit masyarakat digalakkan bahkan aktivitas formal kenegaraan dan kemasyarakatan dipaksa mengikuti aura yang dicuatkan Ramadhan. Pendeknya, Ramadhan layaknya sebuah selebrasi massal melebihi kemeriahan perayaan hari-hari besar lainnya.
Tak sedikit kaum cendekiawan muslim yang mengungkapkan, bahwa bulan Ramadhan merupakan pertemuan antara kekuatan rohani dan jasmani. Orang yang berpuasa ditantang menghadapi bulan Ramadhan dengan kemudi berada di tangannya. Nilai kehidupan duniawi akan diuji oleh kemampuan ruhani dalam mengendalikannya. Bukan hanya dalam bulan Ramadhan melainkan juga sepanjang tahun dan seumur sisa hidup manusia, dengan ukuran sampai berapa jauh orang mampu mengendalikan syahwatnya.
Imam Ghazali dalam masterpiece-nya, Ihya Ulumuddin menyatakan, bahwa puasa adalah seperempat dari iman. Dalam hadits, Nabi menyatakan, bahwa puasa adalah separuh dari sikap sabar, dan sabar adalah separuh dari iman. Artinya kesabaran yang berarti ketabahan hati dapat diukur dari perbuatan dan tingkah laku sehari-hari. Banyak yang bisa menahan jasmani dari perbuatan dosa saat berpuasa dengan meninggalkan makanan yang halal, namun di saat berbuka, ia tak dapat menegndalikan syahwat dari segala yang subhat dengan menyantap makanan yang diketahuinya haram. Ini sama dengan orang yang membangun gedung dengan membinasakan kota.
Fenomena membangun gedung dengan membinaskaan kota sebagai gambaran tentang perilaku selebrasi di bulan Ramadhan makin kental kita saksikan akhir-akhir ini. Bukan kekliruan tatkala orang ramai-ramai menggaungkan simbol-simbol Ramadhan dalam berbagai kegiatan di ruang publik. Malah kita bersyukur, apabila para pegiat entertainmen masih memiliki rasa sungkan untuk buka-buka aurat di tengah selebrasi massif bulan Ramadhan, atau acara-acara berbau pornografi dihilangkan sepanjang bulan Ramadhan. Namun semuanya terkesan hipokrit dan nampak sarat kepura-puraan apabila tidak dibarengi dengan niatan untuk memperbaiki ruang publik bangsa ini dari kultur yang merusak perilaku berbangsa dan bermasyarakat.
Apabila semangat Ramadhan dipraktikan sekedar kulitnya belaka dan seukur aspek jasmaniah tanpa keinginan kuat untuk menjadikannya sebagai arena memperbaiki kesalehan sosial warga bangsa ini maka misi profetis Ramadhan sebagai media introspeksi diri dan merencanakan kesalehan individu seusai bulan penuh berkah ini berlalu kelak, akan sia-sia saja. Apalagi tatkala peneomena sosial keagamaan seperti Ramadhan hanya dimanfaatkan sebagai komoditas industri media untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Harapan mewujudkan bangsa yang beradab dengan kesalehan warganya melalui momentum Ramadhan bak mimpi di siang bolong.
Akhirnya, ibadah shaum bukanlah karena supaya merasakan lapar seperti yang diraskan oleh kaum papa dalam ungkapan klasik. Tetapi sejatinya ibadah yang dilakukan karena digerakkan sehingga mendorongnya untuk membantu meringankan penderitaan kaum papa dari kepapaannya. Dan itu menuntut kesadaran lebih dari sekedar merasakan lapar mereka. Selain itu, bukan hanya jasmani yang beribadah shaum, syahwat pada segala sesuatu yang bukan milik kita, entah harta benda, kekuasaan dan apa saja yang berpotensi merusak diri perlu dikendalikan untuk ikut berpuasa. Itulah esensi dari berpuasa dan kemeriahan merayakan bulan Ramadhan, sebuah esensi yang mengatasi segala yang simbolik dan lahiriah.