IDUL FITRI ; MENYONGSONG SPIRIT PERUBAHAN
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Tiada terasa, kini kita telah berada di penghujung bulan Ramadhan. Seakan baru kemarin kita menyambutnya, namun kini ia akan pergi meninggalkan kita. Tidak ada yang tahu apakah kita akan menjumpai lagi Ramadhan tahun depan. Mengingat tujuan akhir dari kewajiban ibadah shaum Ramadhan adalah derajat takwa (lihat QS. Al-Baqarah : 183). Dan menjelang detik-detik perginya tamu agung nan suci ini, adalah layak kita mempertanyakan kembali dengan serius kepada setiap pribadi kita, “sudahkah kita meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beribadah shaum, atau sudahkah kita memiliki komitmen untuk melakukan perubahan diri, keluarga dan lingkungan seiring terbenamnya fajar Ramadhan?!
Ibadah shaum di bulan Ramadhan sebagai merupakan bentuk pendidikan Rabbaniah diharapkan berhasil mengikat umat Islam kembali kedalam kesatuan nasib sebagai sesama hamba Allah, dalam kesatuan kesadaran sebagai satu umat pemeluk dienul Islam, dan dalam kesatuan tujuan mencapai Ridho Allah. Itulah semangat perjumpaan akbar pada hari yang fitri. Ibadah shaum telah mendorong seorang muslim untuk menemukan kembali kesadaran sejatinya yang berbentuk kefitrahan. Shaum Ramadhan yang diperkaya dengan ibadah lainnya dapat membangkitkan kembali kekuatan ruhaniyah sehingga mampu mengendalikan nafsu atau ego yang negatif dan berlebihan, seperti nafsu kekuasaan, nafsu kebendaan, nafsu biologis dan berbagai nafsu buruk lainnya.
Idul fitri sebagai momentum kembalinya manusia pada tujuan awal penciptaan, pada hakikatnya adalah bentuk kemenangan rohani manusia untuk memimpin kehidupannya. Rohani yang fitrah akan senantiasa cenderung pada kebenaran (hanief), kebaikan (ihsan), ketulusan (ikhlas), kedamaian (mutmainah), kebahagiaan (qanaah), dan persaudaraan (mawadah fil qurba). Itulah hakikat dari firman Allah : Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Dan celakalah orang yang mencemarinya. (QS Asy-Syam 9-10)
Fitrah akan mengajak manusian menuju Allah, sedangkan dosa menjauhkan manusia dariNya. Dosa adalah sumber kegelisahan dan keterpisahan manusia dariNya. Oleh karena itu, manusia yang senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga fitrahnya, akan memperoleh panggilan yang indah setiap saat dari Al-Khaliq, sebagaimana firmanNya : Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas dan diridhoiNya. (QS Al-Fajr 27-28).
Rohani fitrah itu ibarat telaga bening berisi air bersih tanpa noda. Ada banyak hal yang dapat mencemari fitrah manusia, satu diantaranya adalah makanan haram karena diperoleh dari cara yang bathil. Oleh karena itu rangkaian ayat-ayat puasa dalam surat Al-Baqarah 183-188 diakhiri dengan peringatan Allah untuk menjauhi cara-cara bathil dalam memperoleh harta. Sudah tentu peringatan keras ini diarahkah juga terhadap perbuatan-perbuatan yang telah begitu hebat melanda bangsa kita.
Idul Fitri dapat dimaknai sebagai ajang pengujian mentalitas, sebagai pusat pelatihan penggemblengan diri, kawah candradimuka tempat penggodogan diri. Apakah ada perubahan pada diri kita kearah yang lebih baik ataukah sebaliknya. Idul Fitri dijadikan momentum tepat untuk saling maaf-memaafkan, menghilangkan rasa dendam, syirik, dengki yang diharapkan nantinya menimbulkan rasa kasih sayang antar sesama.Hanya saja, jika mencermati fenomena yang berkembang dalam masyarakat, makna Idul Fitri belakangan ini mengalami pergeseran nilai. Kesucian Idul Fitri seolah ternodai oleh ritual-ritual yang sifatnya keduniawian.
Setiap kali Idul Fitri datang, justru yang menonjol bukanlah upaya merajut kembali hubungan baik antar sesama melalui ajang silahturahmi, melainkan ritual perayaan.
Seperti diketahui, perayaan ini identik dengan kondisi serba meriah dan mewah. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya obral besar-besaran menjelang lebaran, larutnya orang memakai baju baru, ramainya pasar swalayan, mall-mall menyambut lebaran, dan berbagai hal yang mengarah pada materialisme. Padalah itu semua adalah cerminan budaya barat yang sama sekali tidak sesuai dengan tradisi Islam. Yang Nampak bahkan gambaran kemewahan yang berdampak pada potret kesenjangan kelas sosial antara kaum kaya dan kaum miskin.
Pada perayaan idul fitri esok, ada tiga hal penting yang patut kita renungkan, pertama, apabila ummat islam gagal menangkap hikmah puasa, maka akankah ada perubahan dalam praktek korupsi? Dan kedua, sudah merupakan sunatullah bagi manusia bahwa perubahan harus dilakukan secara bersama (kolektif). Keinginan kuat seorang individu tanpa dukungan aktif dari masyarakatnya tidak akan melahirkan perubahan berarti. Apalagi jika perubahan itu untuk mewujudkan kebaikan. Ketiga, apabila dalam lima tahun kedepan angka korupsi tidak bisa ditekan ke tingkat terendah, maka bangsa ini akan semakin dihadapkan pada banyak kesulitan, kemerosotan, dan makin tidak berwibawa dalam pergaulan antar bangsa.
Bangsa-bangsa maju dan terhormat, dalam sejarahnya selalu di awali dengan keberhasilan memerangi penyakit sosial yang merusak sendi-sendi dan tatanan kehidupan masyarakatnya, yaitu korupsi. Ironisnya, bila citra bangsa ini terpuruk karena korupsi, maka pada saat yang sama citra ummat islam yang diproyeksikan Al-qur’an sebagai ummat terbaik untuk kemanusiaan (khaira ummatin ukhrijat linnas) juga sangat di pertaruhkan dan dipermalukan. Semoga idul fitri tahun ini bisa menjadi energi moral (driving force) sehingga kita mampu melakukan jihad sosial yang begitu mendesak ini. Kalau kita dengan sungguh-sungguh berjuang untuk menyelamatkan ummat dan bangsa ini insyaAllah selalu ada jalan terbaik di depan kita